× NEWS POLLING HOW TO EVENTS FRANCHISE
Majels

Business

Jam Unik dari Botol Bekas

Majels Yani   09 February 2017 09:29

News

majels.com - Yogi Jiwandono, melihat hal lain dari sampah dan barang bekas. Ia merasa tertantang membuat karya yang bisa menjadi ciri Indonesia. Lewat tangan kreatifnya, ia menyulap botol dan VCD menjadi jam unik dengan motif polos dan bentuk menyerupai boneka.

Awalnya Yogi berjualan barang-barang unik dari Tiongkok. Dari situ timbul sebuah ide bisa membuat barang-barang produksi sendiri. Pria yang pernah belajar di Institut Kesenian Jakarta ini terketuk untuk membuat sesuatu yang akan menjadi image dari Indonesia nantinya. Yogi ingin membuat terobosan. Ia ingin membuat sesuatu yang akan dilihat dan diingat bahwa benda itu berasal dari Indonesia. Karena kemampuan dan hobi dibidang craft ia mulai membuat bermacam-macam prototipe produk. Tapi karena keterbatasan dana, Yogi membuat banyak barang dari barang bekas.

Desain Jam Unik

Yogi mendapat ide dari melihat botol bekas dan kepingan VCD. Ia pun mencoba menyusun dan menata kepingan barang-barang bekas tersebut. “Tak disangka ternyata bentuknya malah mirip karakter.” Yogi memutuskan untuk membuatnya menjadi sebuah jam. Agar terlihat menarik, ia mencoba untuk mewarnai botol itu dengan cat semprot. “Karena memang tidak ahli, hasilnya kurang memuaskan.”Kegagalan itu tidak membuatnya putus asa. Sang istri yang juga bergerak di bidang craft menyarankan untuk menggunakan kain flannel. Setelah dicoba, Yogi mendapatkan hasil sesuai yang diharapkan. Terlebih lagi dengan menggunakan kain flannel keamanan produk lebih terjamin. “Kalau menggunakan cat semprot baunya sangat menyengat. Kain flannel lebih aman untuk siapa saja.”

Pada tahun 2010 ia memulai usaha yang diberi nama Tagiman. “Modal yang dipakai tidak sampai Rp50.000, karena sebagian besar memang barang bekas.” Yogi kemudian  mulai menjual Tagiman dengan bentuk jam karakter superhero untuk tes pasar, untuk mengukur bagaimana daya jual dari jam buatannya. Tak disangka desain jamnya mendapatkan tanggapan positif karena bentuknya yang unik. Ia pun mengaku terkadang kerepotan ketika pesanan yang datang terlalu banyak. “Karena kami masih bisnis kecil dan handmade jadi order yang datang masih dibatasi.”  Setelah tiga tahun berjalan, Yogi mengubah konsep produknya. Ia tidak lagi menerima order jam karakter lagi. “Saya ingin membuat karakter orisinal supaya nama Tagiman yang dikenal bukan karakter yang saya buat.” Yogi membuat Tagiman karakteristik, supaya lebih mudah dikenal.

Perubahan produk ini menjadi cobaan bagi Yogi karena masih banyak yang menanyakan jam karakter tersebut. “Namun saya tidak menerimanya karena tujuan saya agar Tagiman yang dikenal bukan tokoh superheronya.” Kendala lain juga muncul dari pengadaan bahan baku. Ia mengatakan untuk membuat yang sama ia hanya menggunakan botol dengan bentuk tertentu. “Kalau pakai sembarang botol bisa saja, tetapi kualitasnya kan tidak bisa kita jamin.” Akhirnya ia bekerja sama dengan pengepul untuk menyediakan botol yang ia minta.

Terjegal Desain Sendiri

Yogi yang ingin desainnya diakui oleh hukum berniat untuk mendaftarkan desainnya. Namun ternyata ia tidak bisa. “Saya tidak bisa mendaftarkan desain saya karena sudah diposting ke internet.” Rupanya untuk mendapatkan izin desain industri harus di daftarkan terlebih dahulu sebelum menjual dan mempublikasikannya. “Saya tidak bisa mengakui bahwa itu desain saya, tetapi bebas menggunakan desain itu, begitu juga orang lain.”

Yogi mengatakan bahwa dalam membuat iklan tentang produknya ia mengacu pada desain-desain dari luar negeri. “Karena desain luar negeri itu rapi, enak dipandang dan modern.” Ia menambahkan hal itu digunakan untuk menghilangkan stigma bahwa produk buatan Indonesia tidak bagus. Oleh sebab itu Yogi berusaha agar konsumen yang melihat poster dan desainnya mereka akan mengira ini buatan luar negeri.

Kedepannya ia ingin desain produknya terus berkembang. “Beberapa waktu yang lalu saya membuat Tagiman yang bisa bersinar, tetapi untuk masalah kelistrikan ternyata harus ada standar tertentu, jadi belum bisa dipasarkan.” Yogi ingin bahwa produk itu matang terlebih dahulu sehingga konsumen puas. Terlebih bagi Yogi, Tagiman merupakan batu loncatan yang sangat besar bagi dirinya. (teks:iwa/foto:reza)

Share this post to your friends
Majels    Majels    Majels   

Majels
Yani

Leave Comment

RECENT ARTICLE
Majels
News
Tingkatkan Penjualanmu di Bukalapak dengan Fitur Bukaiklan
Syahid
09 May 2018 17:46
Majels
News
Tips Menggunakan Layanan Kirim Barang Dengan Benar
Syahid
09 May 2018 13:58
Majels
Economic
Tania Jean Winarti, Raup  Untung Juta dari Inovasi Nasi Uduk
Syahid
09 May 2018 09:21
Majels
News
Mengenal Apa Itu Konsep AIDA dalam Pemasaran
Syahid
08 May 2018 15:30
Majels
News
Peluang Usaha Makanan Sehat
Syahid
08 May 2018 13:09